Masih percaya kalau gendut itu sehat?

Pernah dengar kalau :

Wah kelihatannya makin “seger” nih
Gemuk itu tanda sehat lho!
atau biarin aja gendut, yang penting sehat

Nah, sebelumnya perlu diperhatikan dulu yaitu indikator BMI atau Body Mass Index. cek BMI di link ini

Nanti akan ketahuan secara berat badan, kita termasuk normal, overweight, atau obesitas. Ketika kita mengetahui kondisi kita saat ini, bukanlah untuk membuat diri kita rendah dan merasa bersalah, tapi kita harus bersyukur ketika kita masih diberikan kesempatan untuk menjadi lebih baik dan lebih sehat lagi yaaaa…

 

Kita perlu waspada, karena obesitas merupakan suatu tanda ketika ada penyakit yang berbahaya dan beresiko lebih tinggi untuk menyebabkan penyakit seperti jantung, diabetes, dan stroke.

 

Terlebih di masa pandemi ini, resiko bagi orang yang obesitas, usia diatas 65 tahun dan memiliki masalah sindrom metabolik (seperti BMI, kadar glukosa tinggi dan insulin) akan makin meningkat pada pasien COVID-19.

Silahkan cek riset : Obesity and impaired metabolic health in patients with COVID-19

 

Pada riset European Heart Journal pada 300 ribu orang menemukan fakta bahwa ada korelasi kuat antara orang yang memiliki kandungan BMI tinggi dengan risiko penyakit jantung, stroke dan tekanan darah tinggi. Semakin tinggi kadar BMI maka risiko untuk terkena penyakit diatas juga semakin tinggi.

Dalam situasi new normal, kita juga harus menerapkan new life style untuk meningkatkan kualitas tubuh kita.

Beruntung Anda ada di website ini, dan berkesempatan untuk mempelajari pola diet rendah karbo yang telah banyak membantu banyak orang terbebas dari obesitas, bahkan bisa membantu metabolisme tubuh menjadi lebih baik lagi.

 

Ingat : ‘Gemuk tapi sehat’ tetap bukan alasan!

 

Prinsip diatas kita jadikan sebagai pedoman bahwa jangan sampai yang sudah obesitas akan beresiko menambah berat badan lain. Kita perlu mulai mengusahakan dengan sungguh-sungguh untuk mengurangi berat badan secara bertahap.

Memang tidak bisa hanya menggunakan berat badan dan level obesitas menjadi satu-satunya faktor saja, sehingga tahap selanjutnya tetap kita perlu melihat parameter lain agar dapat memiliki gambaran lebih lengkap tentang kondisi tubuh kita.

Jadi, kesimpulannya, jangan terlalu melihat tema “motivasi” seperti ‘obesitas yang sehat’ dan ‘gemuk tapi sehat’ menjadi pembenaran diri dan akhirnya membuat kita menggampangkan masalah kesehatan serius yang mengintai di baliknya.

Mari mulai merubah gaya hidup lebih bersih, aktif, membiasakan pola makan sehat, istirahat yang berkualitas sebagai solusi yang jauh lebih penting untuk kesehatan Anda secara keseluruhan daripada angka di timbangan.

Silahkan pelajari Pola Ketogenic di ebook : MULAI KETOGENIC

Kenapa Perut Ini Makin Lama Makin Jadi Buncit?

Kenapa Perut Ini Makin Lama Makin Jadi Buncit?

Coba flashback 2,3,4,5 tahun yang lalu…
Apakah ada penambahan ukuran celana Anda ?

Menurut wikipedia Perut buncit atau perut gendut, dikenal dengan nama klinis obesitas abdominal atau obesitas sentral, adalah kumpulan lemak abdominal berlebih yang terdapat di daerah abdomen. Obesitas abdominal berkaitan erat dengan penyakit kardiovaskular. Obesitas abdominal tidak hanya ditemukan pada orang tua dan penderita kegemukan. Selain itu, obesitas abdominal telah dikaitkan dengan penyakit Alzheimer serta penyakit metabolis dan vaskular lainnya.

hmmmm….

semakin jelas ya, sebenarnya salah satu akar dari berbagai penyakit itu adalah perut buncit ini….

Jika kita simak lebih dalam, apa penyebab perut buncit ini?
Indikasi mendasar dari penumpukan lemak didaerah perut ini adalah insulin resistance.

Kok bisa sih?
Salah satu bentuk metabolisme tubuh agar terhindar dari gula darah berlebih (dari karbo dan gula) adalah menyimpannya dalam bentuk lemak. Secara umum manusia (dalam metabolisme glukosa) hanya membutuhkan 6-9 sendok teh sehari. Tapi coba ukur berapa banyak konsumsi karbohidrat dan gula yang kita konsumsi. Dari riset umum, ternyata kita mengkonsumsi gula setara antara 20-40 sendok gula per hari. OMG!

Tidak heran pankreas kita akan bekerja keras memproduksi hormon insulin. Insulin ini kemudian akan membantu mengolah glukosa dari karbohidrat agar menjaga gula darah tetap rendah. Serunya ketika gula darah kita sudah turun, disana akan muncul rasa lapar lagi, sehingga kita “terpaksa” makan lagi setelah 2 jam. Dan gula darah naik lagi, pankreas bekerja lagi untuk meghasilkan insulin.

Apalagi jika aktivitas fisik rendah, misal hanya duduk di depan komputer, tidur-tiduran saja, maka bisa dibilang glukosa yang dibakar menjadi kalori sangat rendah sekali.

Bagaimana hubungan antara GLukosa, Insulin, dan Lemak tubuh?
Ketika gula dalam darah tinggi, tubuh akan menyimpan dalam bentuk glikogen dalam liver dan otot. Tapi jumlahnya sangat terbatas (100-150mg / dL), sehingga kelebihan lainnya yang akan diubah menjadi lemak tubuh.

Nah lemak-lemak inilah yang terus ditumpuk sedikit-demi-sedikit menjadi trigeliserida (proses lipogenesis), atau lemak tubuh. Setiap hari. Mungkin Kita sendiri tidak akan menyadari, hingga suatu saat kita mulai merasakan ukuran baju dan celana menjadi lebih sempit.

Bukan baju dan celana yang menyempit. Tapi badan kita yang membesar!

Ketika Trigleserid tinggi, umumnya liver telah diselumuti lemak dan dikenal dengan fatty liver. Kejadian ini sering terjadi karena selain glukosa, liver merupakan satu-satu-nya organ yang memproses fruktosa.

Ketika liver bermasalah, empedu dapat terkena imbasnya, trigeliserida tinggi, gula darah terus tinggi, hingga akhirnya pankreas juga akan mulai menurun kemampuan memproduksi insulinnya.

Di fase ini sudah terjadi diabetes (supply insulin berkurang) hingga akhirnya penderita menggunakan obat-obatan berupa insulin secara oral ataupun suntik. Dan jika masih belum ada perubahan pola makan, konsumsi karbo dan gula tinggi terus berlangsung maka suatu saat akan terjadi insulin resistance.

Resistensi insulin adalah kondisi dimana sel gagal merespons terhadap hormon insulin. Tubuh memproduksi insulin saat glukosa mulai dilepaskan ke dalam aliran darah dari pencernaan karbohidrat dan gula dalam makanan. Ketika resistensi insulin tubuh sudah tidak mampu menggunakan glukosa untuk digunakan sebagai energi, dan tidak dapat lagi menyimpan menjadi lemak, dan gula darah dalam tubuh akan tetap tinggi.

Inilah kenapa penderita diabetes, terutama yang kronis akan merasa tetap tidak berenergi, lemas, mudah mengantuk, walau sudah makan (karbohidrat dan gula).

Pola makan ketogenic dengan menggunakan 70% kalori dengan lemak, dan 25% kalori dengan protein, akan mengubah sumber energi yang berasal dari karbohidrat berubah ke lemak. Konsumsi dalam ketogenic ini membuat manusia mampu menjaga batasan konsumsi makanan 1/3 lambung.

Selamat Mencoba!
dan gabung juga di https://www.facebook.com/groups/ketogenicindonesia

Diet Makan Banyak Lemak Bisa Bikin Langsing?

Diet Makan Banyak Lemak Bisa Bikin Langsing?

Apa Anda masih terus mencari cara baru untuk menurunkan berat badan?
Jangan khawatis, Anda tidak sendirian kok… Ternyata 20% resolusi tahunan adalah menurunkan berat badan!

Sekali lagi selamat Anda sudah menemukan tulisan ini, bisa jadi diet keto ini merupakan pilihan yang paling tepat untuk Anda

Apakah diet ketogenik itu?
Diet Ketogenic pada dasarnya konsumsi rendah karbohidrat, diet tinggi lemak.

Sebelum melanjutkan membaca simak sebentar video 4 menit ini :

Menurut dr. Zainal Gani, diet ketogenik kita hanya dapat konsumsi karbohidrat 10-30 gram per hari. Diet keto menggantikan asupan karbohidrat dengan lemak, dan membatasi protein. Alokasi kalori harian 70-80% harian dari lemak.

Dengan konsumsi makanan rendah karbo, akan membuat tubuh kita dalam keadaan ketosis, artinya menggunakan keton / lemak sebagai energi. Tidak lagi menggunakan glukosa dari karbohidrat.

“Ketika ketosis terjadi, tubuh Anda akan menjadi lebih efisien dalam membakar lemak untuk energi,” kata Dr Mc-Nair. “Proesesnya lemak diubah jadi keton dalam hati, yang kemudian keton akan memasok energi untuk tubuh dan otak.”

Apa saja yang dapat Anda KONSUMSI dalam DIET KETO :

  • Daging – daging sapi, daging kambing, ayam dan bebek
  • Ikan – ikan salmon, trout, tuna dan mackerel, ikan laut maupun tawar.
  • Telur
  • Mentega dan Keju
  • Beberapa Kacang-kacangan – Almond, kenari, biji rami, biji labu, biji chia, dll
  • Minyak – Terutama minyak kelapa, dan zaitun
  • Buah Alpukat

Untuk menjaga tubuh dalam keadaan ketosis, HINDARI MAKAN :

  • Semua makanan dan minuman bergula – Soda, jus buah, smoothies, donat, kue, es krim, permen, dll
  • Pati – beras, mie, lontong, roti, produk berbasis gandum, pasta, sereal, dll
  • Buah – Semua buah di awal dihindari dulu, terutama buah manis
  • Kacang-kacangan – Kacang hijau, kacang merah, buncis, dll
  • Umbi-umbian – Kentang, singkong, ubi jalar, wortel, lobak, dll
  • Lemak Trans – Minyak canola, minyak jagung, minyak kedelai
  • Minuman beralkohol – karena konten karbohidrat tinggi

Apakah itu Diet Keto bisa bikin langsing?

Saat ini lebih dari 20 penelitian yang menunjukkan konsumsi rendah karbohidrat seperti diet keto dapat membantu Anda menurunkan berat badan dan meningkatkan kualitas kesehatan.

Selain akan membawa metabolisme tubuh Anda ke ketosis, sehingga terjadi pembakaran lemak dan mengontrol gula darah, dalam risetnya beberapa pakar melihat konsumsi lemak membuat tubuh tidak mudah lapar dan terhindar dari ketagihan akan gula dan karbo.

Diet Ketogenic ini sangat cocok terutama bagi mereka yang mengalami kasus obesitas ataupun terkena diabetes / pre-diabetes.

Di group facebook, Anda bisa menemukan banyak sekali testimoni dan pengalaman positif dalam menjalankan diet ketogenik ini.

Silahkan cari referensi di European Journal of Clinical Nutrition, pembatasan karbohidrat secara ekstrim dapat membantu mengatasi epilepsi, mengontrol jerawat, melawan kanker, dan melawan penyakit Alzheimer dan Parkinson.

Apakah Diet Ketogenic ini Aman?

Jika selama ini kita mempelajari ilmu nutrisi, rata rata 50-60% asupan harian berasal dari gula dan karbohidrat. Tapi mengacu penelitian diatas terhadap pelaku diet ketogenic selama 6 bulan, tidak menyebabkan masalah kesehatan yang signifikan.

“Prinsip nya pembatasan karbohidrat akan membantu tubuh untuk menggunakan cadangan lemak sendiri, dan akhirnya, seseorang akan kehilangan berat badan”, menurut Dr McNair. Beberapa keluhan yang biasanya di rasakan di awal karena terjadi adaptasi ke metabolisme ketosis antara lain : sakit kepala, diare, sembelit, perubahan suasana hati, kram otot dan kelelahan. Secara umum efek samping itu bisa diminimalisasi dengan konsumsi virgin coconut oil, garam, kaldu, dan cuka kelapa maupun cuka apel.

Jika Anda serius mau mencoba, silahkan download panduannya di : Ebook Coconut Ketogenic.