Kena flu? Coba diet Keto! Ini meningkatkan sistem kekebalan tubuh Kamu…

Kena flu? Coba diet Keto! Ini meningkatkan sistem kekebalan tubuh Kamu…

  • Penelitian pada tikus yang terinfeksi virus influenza dengan asupan tinggi lemak, rendah karbohidrat
  • Populer disebut diet keto yang “heboh” 2 tahun terakhir
  • Peneliti menemukan diet memicu aktifnya sel-sel sistem kekebalan dalam tubuh
  • Sel-sel ini menghasilkan lapisan pelindung sel dan menjebak virus

Diet ketogenik ini memang terbukti manjur untuk mengatasi obesitas dan kelebihan berat badan. Kalau kamu sudah mengikuti foodketo.com sejak lama, maka selamat! Walau banyak pro dan kontra, banyak media hari ini memberitakan penelitian terbaru tentang diet keto dan flu.

Penelitian lengkapnya ini bisa Kamu cek langsung di : https://immunology.sciencemag.org/content/4/41/eaav2026

Bagaimana penelitian ini dilakukan?

Peneliti menguji pada tikus yang terinfeksi virus influenza dengan pola makan tinggi lemak, rendah karbohidrat, yang diteliti memberikan efek tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang melakukan diet tinggi karbohidrat (diet normal).

Dalam penelitian tersebut juga memperlihatkan diet ketogenik memicu pelepasan sel-sel sistem kekebalan yang menghasilkan lapisan sel dan menjadikan virus melemah.

diet keto
Rp99.000

Jika kamu sudah baca buku Ketogenic Gaya Hidup Revolusioner, pasti udah tahu cara diet keto ini ya. Atau yang masih penasaran, dapetin aja flashcardnya yang bisa didapatkan dengan gratis atau murah bangetttttt

Keto adalah pola makan dengan menghindari karbohidrat tinggi. Lalu makan apa? bisa konsumsi daging, ikan, ayam, telur dan sayuran.

Memang sekilas diet ini mirip dengan diet Atkins, karena mengurangi asupan karbohidrat secara drastis. Jika atkins tinggi protein, keto akan menjaga agar asupan lemak terpenuhi dengan baik.

Para ahli sekarang telah menemukan suatu cara efektif untuk melawan virus flu. Dengan ditemukan cara untuk mengaktifkan subset sel T di paru-paru yang sebelumnya tidak terkait dengan respon sistem kekebalan tubuh terhadap influenza, meningkatkan produksi lapisan dari sel-sel saluran napas, secara efektif dapat menjebak virus.

Dalam pengujian teori ini, peneliti memberi makan tikus yang terinfeksi influenza A – jenis virus paling bahaya – baik keto atau diet standar selama seminggu sebelum infeksi. Setelah empat hari, 7 tikus yang diberi diet standar meninggal karena infeksi, dibandingkan dengan hanya 5 dari 10 tikus yang menggunakan diet keto. Tikus diet keto ini juga tidak turun berat badan yang biasanya merupakan tanda dari infeksi flu pada hewan.

Penelitian ini dilakukan di Universitas Yale. Ryan Molony menemukan bahwa aktivator sistem kekebalan yang disebut inflammasom dapat menyebabkan respons sistem kekebalan yang berbahaya, dan Emily Goldberg yang bekerja di lab Dixit, menjelaskan bagaimana diet ketogenik menghambat pembentukan inflammasom.

Akiko Iwasaki, Profesor Immunobiologi dan Molekul Molekul, Biologi Seluler dan Perkembangan, Waldemar Von Zedtwitz, dan seorang peneliti dari Institut Kedokteran Howard Hughes mengatakan temuan itu ‘benar-benar tak terduga’.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa cara tubuh membakar lemak untuk menghasilkan tubuh keton dari makanan yang kita makan dapat memicu sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi flu,” jelas Dixit.

Dalam penelitian itu juga, mereka menemukan bahwa tikus yang terinfeksi virus flu yang diberi makan diet keto memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi daripada tikus yang diet karbohidrat tinggi. Keren yaaaa…..

Coba perhatikan adanya tren serangan virus corona yang semakin marak belakangan ini. Pelajari tentang virus corona, gejala virus corona, coronavirus di : update corona virus

Jujur, kemaren diinfokan Dokter Widjanarko tentang hal ini membuat saya begitu semangat!

Perbedaan antara diet keto dan diet biasa adalah dalam diet keto memicu pelepasan sel T gamma delta, sel sistem kekebalan yang menghasilkan lapisan di lapisan sel paru-paru – sedangkan diet tinggi karbohidrat tidak.

“Hindari Makan Lemak” : Mungkin saran terburuk yang pernah ada, kata Dr Jordan B Peterson

“Hindari Makan Lemak” : Mungkin saran terburuk yang pernah ada, kata Dr Jordan B Peterson

Saya shock ketika membaca twitter dan facebook Dr Jordan B Peterson beberapa hari yang lalu :

“High carb, low fat diets: Perhaps the worst public policy advice ever. Unbelievable”

Jika Anda suka membaca jurnal ilmiah silahkan cek di link ini.

Penelitian ini diberi kode PURE, dimana melibatkan lebih dari 135.000 peserta dari 18 negara, melihat konsumsi karbohidrat meningkatkan angka kematian, dimana porsi lemak dikurangi. Hal yang menjadi panduan nutrisi yang diberikan negara dan professional nutrisi dan medis saat ini.

Sejak tahun 1930an bahwa pengurangan makanan, pembatasan kalori, dalam penelitian dapat memperpanjang umur. Hingga muncul rekomendasi diet untuk menjaga kesehatan manusia dengan mengurangi lemak, khususnya lemak jenuh sejak tahun 1970an.

Oh, ya… riset semacam ini sebenarnya sangat banyak, tapi tidak populer. Dan salah satu publikasi terbaru di bulan Oktober 2017 adalah riset ini. Silahkan kaji lebih dalam untuk mempelajarinya.

Dari studi PURE, yang terdiri dari> 135.000 individu yang direkrut dari 18 negara dari negara berbeda di seluruh dunia, telah dipublikasikan (Dehghan et al., 2017). Melakukan penelitian dengan parameter klinis, faktor sosio-ekonomi, dan kuesioner makanan dan olahraga dirinci penelitian, dan orang dengan penyakit kardiovaskular yang sudah ada sebelumnya (tapi bukan diabetes) tidak dalam riset, setelah di follow-up rata-rata 7,4 tahun, bersama-sama lebih dari 10.000 kematian atau kejadian medis, seperti stroke yang terjadi. Kemudian secara statistik berkorelasi dengan parameter saat inisiasi. Dehghan dkk. (2017)) menemukan bahwa “asupan karbohidrat berhubungan erat dengan peningkatan angka kematian.”

Sebaliknya, jenis lemak jenuh, lemak tak jenuh tunggal, dan lemak tak jenuh ganda dapat mengurangi kemungkinan kematian. Sehingga penelitian menyimpulkan bahwa “Pedoman diet global harus direvisi.”

Sebagian besar karbohidrat yang dikonsumsi mengandung monosakarida D-glukosa sebagai “key building block”, yang kemudian dibawa kedarah sehingga memicu hormon insulin dari sel Ī² pankreas. Glukosa diedarkan dan dimetabolisme dalam beberapa tipe sel dengan metode insulin yang tepat. Ibarat antara gembok dan kunci harus tepat.

Faktor, Modulator, dan Eksekusi Karbohidrat

(A) Faktor fisiologis dan lingkungan yang berhubungan dengan penggunaan karbohidrat atau glukosa.
(B) Modul terapi dari faktor individual
(C) Kondisi secara kumulatif setelah kejadian A dan B

Jika tertarik mempelajari lebih detail silahkan cek penelitian dengan judul “Dietary Carbohydrates Impair Healthspan and Promote Mortality.” yang ditulis oleh Ravichandran M, Grandl G, Ristow.

Open chat
1
Halo kak, silahkan chat...