Mengapa Tidak Makan Nasi itu Sulit?

Judul tulisan ini bukan click bait lho ya. Karena faktanya untuk membuat seseorang tidak lagi makan nasi itu bukan hal yang mudah! apalagi kalau harus menghindari dari konsumsi karbohidrat.

Sebelum Anda melanjutnya membaca tulisan ini. Ketahui dulu apa itu karbohidrat. Bahan makanan yang selama ini dianggap sebagai makanan pokok. Sumbernya berasal dari nasi, mie, roti, singkong, gandum, kentang, jagung, dan berbagai jenis tepung-tepungan.

Selama 1 dekade, karbohidrat ini dianggap sebagai sumber energi utama dan harus tersedia setiap kali makan.

Apa yang membuat tidak makan karbohidrat begitu sulit?

Yuk kita coba bahas.

Ketika mengenal ketogenic, atau diet keto, bisa jadi kita akan menjadi bingung dan seperti tidak percaya. Bagaimana tidak, kita diminta mengatur makan agar 70-80% asupan dari lemak, dan menghindari makan karbohidrat dan gula.

Padahal sejak kecil kita diminta untuk mengkonsumsi nasi sepanjang waktu. Bahkan di sela-sela makan, ada lagi snack yang mengandung singkong, kentang, tepung, dan gula-gulaan.

Betul?

Hari ini coba kita belajar sedikit sejarah, walau pun bisa jadi tidak sempurnya. Tapi paling tidak kita bisa memahami asal usul bagaimana nasi ataupun karbohidrat ini menjadi makanan pokok manusia. Ingat bahwa prinsip dari kehidupan adalah survival. Bertahan hidup, dan kita akan memahami bagaimana revolusi agraris itu terjadi. Bagaimana kita bisa bertahan hidup, mendapatkan uang dan penghasilan adalah dengan bercocok tanam. Hal itu yang bisa jadi melandasi bagaimana kita sulit, bahkan tidak bisa meninggalkan karbohidrat dengan mudah.

Satu fakta yang menarik adalah bagaimana prinsip agraris memang hanya akan tumbuh baik di areal tropis dan sub tropis saja. Wilayan non tropis akan kesulitan untuk hidup dengan bekerja sebagai petani. Di sisi lain, suku-suku tersebut juga tidak bisa tergantung dengan berburu / mencari ikan saja. Sehingga realitasnya manusia itu selalu memiliki akal untuk bertahan. Kalau adanya hewan, ya berburu. Kalau adanya tumbuhan, ya itu yang akan dimakan. Kalau tersedia keduanya, ya bisa saja dikombinasikan. Kalau tidak tentu manusia sudah punah sejak dulu ya.

Faktanya manusia bukanlah karnivora mutlak, atau herbivora mutlak. Tubuh kita mampu mengolah makanan omnivora. Baik yang hewani maupun yang nabati. Dan ini tentunya adalah skenario Allah SWT.

Ada satu riset Cordain, Eaton, Miller, Mann & Hill (2002) yang mengungkapkan bahwa manusia jaman dulu komposisi makannya adalah Protein 19-35% Carbs 22-40% Fats 28-58%.

Tentu kondisi mereka di masa itu jauh berbeda dengan masa kini. Dulu tiap jenis tumbuhan ada masa panennya. Dulu mencari makanan butuh waktu dan perjuangan. Untuk berburu juga ada masa-masanya. Yang sangat berbeda dengan kondisi kita saat ini dimana makanan selalu tersedia sepanjang tahun, sepanjang bulan, setiap minggu, tiap jam, bahkan setiap detik kita mau.

Mungkin ibaratnya ada hewan liar di hutan, sama hewan yang ada di kandang bersama tuan-nya.

Ini bukan tentang salah dan benar. Tapi tentang fakta yang kita hadapi sehari hari. Manusia, teknologi, dan peradaban modern ini telah berkembang luar biasa.

Saya tidak tahu benar atau salah, tapi memang pertanian ini sifatnya lebih scalable dibandingkan dengan perternakan. Lahan tersedia, tidak perlu energi fisik yang besar untuk berburu. Hingga gandum atau sebangsa roti-rotian ini menjadi makanan khas juga orang di subtropis seperti eropa yang menjadi pusat peradaban masa lalu.

Mengolah nabati ini juga lebih mudah, bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan dan relatif tahan lebih lama.

Lalu bagaimana hingga terjadi kondisi seperti saat ini?

Banyak hal yang terjadi terutama ketika lemak dan kolesterol ikut difitnah sebagai sumber penyakit. Coba pelajari teori ancel keys tentag kolesterol dan serangan jantung. Puncaknya majalah TIME tahun 1961 pun mengangkat teori yang sebenarnya hanya berdasarkan hipotesa (kira-kira) saja. Parahnya dari 20-an negara penelitian, hanya diambil 6 negara yang cocok dengan penelitian tersebut.

Tentu publikasi itu juga meningkatkan permintaan akan jenis bahan makanan lain, terutama karbohidrat. Hingga akhirnya perusahaan bernama mosanto menguasai teknologi rekayasa yang menjadikan gandum bisa dipanen dengan cepat, sepanjang tahun, dan bisa dibuat dengan harga yang murah.

Metode pembuatan roti juga berkembang dengan berbagai tambahan bahan kimia dan sintetis yang mendukung industri pangan yang banyak mengabaikan banyak teori metabolisme manusia secara mendasar.

Bagaimana dengan di Indonesia? Saya perlu riset lebih dalam sih, akan tetapi dulu jaman kerajaan bisa jadi beras ini bukanlah konsumsi harian masyarakat. Beras ini digunakan pada acara-acara perayaan saja. Keseharian banyak konsumsi sayur, ikan dan daging.

Silahkan mulai pelajari diet keto di : Panduan Ketogenic

Tetapi sejak adanya konsep 4 sehat 5 sempurna tahun 1955 yang mengambil referensi dari WHO, nampaknya kita lupa akan dasar-dasar nutrisi dan mulai menjadikan karbohidrat sebagai makanan utama, protein terbatas, dan menghindari lemak.

Dan konsep 4 sehat 5 sempurna ini baru direvisi tahun 2016 menjadi Konsep Gizi Seimbang.

hmmmm…. coba hitung totalnya butuh waktu 61 tahun! Kebayang ya, satu generasi lho!

Bagi orang Indonesia sampai mendarah daging belum makan kalau belum makan nasi. Jadi kalau makan jagung, singkong, kentang, ketela, bahkan roti, dan mie, itu dianggap belum makan.

Semua kebijakan pemerintah pun akhirnya ditujukan untuk swasembada beras dan bagaimana semua orang Indonesia makan nasi setiap kali makan. Nasi adalah status, makan nasi adalah kemewahan.

Tulisan ini belum divalidasi secara sejarah. Silahkan berikan masukan dan komentar untuk melengkapi.

Kini muncul sebuah gerakan baru. Komunitas tidak mau makan nasi, tidak mau makan karbo. Ada apa sebenarnya?

Faktanya jika dilihat memang secara global kasus obesitas dan penyakit kronis ini semakin meraja lela. Pola diet yang disarankan pemerintah, diajarkan di kampus, di praktekkan di rumah sakit dan praktek dokter, gagal menekan Anda obesitas dan kualitas kesehatan manusia makin menurun.

Sedangkan sekelompok orang yang mulai menghindari karbohidrat, mengkonsumsi banyak lemak malah dapat menjadi lebih muda, terbebas obat, dan energi semakin tinggi?

Secara ilmu nutrisi makan kita akan bisa kembali menemukan apa yang disebut dengan keton. Bahan bakar manusia yang berasal dari lemak. Manusia tidak hanya menggunakan energi dari glukosa, yang selama ini telah kita gunakan bertahun tahun.

Tubuh kita jadi kehilangan kontrol dan kemampuannya untuk menggunakan keton. Tubuh kita dipaksa terus untuk membakar glukosa. Setiap saat, setiap hari.

Di era modern ini, pelaku diet keto, atau low carb, memang nampak aneh. Tidak makan makanan yang selama ini dikenal WAJIB untuk dimakan.

Disini kita akan dituntut untuk belajar kembali. Mencoba mempelajari lagi sumber-sumber makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. Ini karbo, ini protein, ini lemak.

Cek Apa aja Menu Diet Keto?

Saya pun yakin, ini tidak mudah untuk semua orang. Ada yang dengan mudah menjalankannya, ada juga yang sangat sulit memulai.

Tetapi ini jauh lebih baik daripada kita tidak pernah peduli pada tubuh kita sendiri. Tubuh yang menjadi amanah dari yang Maha Kuasa untuk kita jaga dan pelihara.

Silahkan memulai pola ketogenic ini dengan cara Anda masing-masing. Lakukan sedikit demi sedikit seperti kita memulai belajar naik sepeda. Kadang jatuh, kadang nabrak, tapi kita tidak akan bisa naik sepeda jika tidak pernah memulainya. Pesan cantik dari dr. Eric Westman minggu lalu.

Beliau bahkan mengatakan : menggaransi Anda akan menemukan hidup yang lebih berkualitas, dengan catatan mau memulainya.

Selamat menikmati perjalanan ketogenic Anda. Ingat selalu respek dan jujur kepada diri sendiri. Manusia adalah makhluk individual dan sosial, sehingga selalu jaga agar diri kita senantiasa menjadi lebih baik dan lebih bermakna untuk manusia dan alam semesta. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *